Siang

by - 10:27

To : Agni

Say, basket yuk!
Gue tunggu di lapangan depan komplek lo!
Cepet ya, cantik! :-)

Agni tersenyum lebar saat ia menerima sms itu. Dia segera merapikan bajunya dan bergegas ke lapangan basket komplek.
“Eh, tumben lo nggak lama, Ag?” Tanya Elang heran melihat Agni jam 08.00 pagi di hari minggu sudah rapih. Biasanya, Elangharus menyusul Agni dulu ke rumahnya.
“Lo nggak suka kalo gue bangun pagi ya, Kak?” Tanya Agni balik.
“Nggak gitu, cantik. Ya udah, mulai yuk!” Elang menarik tangan Agni dan bermain basket by one.

Dua jam mereka habiskan waktu dengan bermain basket, tertawa, dan berebut bola basket. Keringatpun berebut untuk keluar dari tiap pori-pori tubuh mereka.
“Ag, istirahat dulu ya. Capek,” kata Elang sambil mengambil dua botol minuman isotonik dingin dari tasnya. Dilemparnya botol itu ke arah Agni. Agni tersenyum dan menangkap botol itu, bergegas ia dekati Elang yang sedang menghapus keringatnya dengan punggung tangannya.

“Jorok banget dah, awasin tangan lo, Kak,” perintah Agni, Elang menurut dengan tidak sadar. Dibiarkannya Agni menghapus keringat di wajahnya dengan sapu tangan miliknya. Elang menatap Agni lekat. Gadis tomboy yang dingin sekaligus sahabatnya itu kini telah digenggamnya.
“Makin sayang gue sama lo, Ag,” ucap Elang tulus tepat di hadapan wajah Agni, membuat Agni tak punya banyak waktu untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, “Lo apaan sih, Kak,” kini Agni punya alasan untuk melengos dari tatapan Elang yang dari tadi tak ingin lepas dari wajahnya. Elang tersenyum tipis melihat Agni salah tingkah di depannya.
“Kak, lo tau nggak sekarang hari apa?” Tanya Agni tiba-tiba.
Hari Kamis, kan?”
“Tanggal?” Tanya Agni lagi.
Lima belas.”
“Bulan?”
“Agustus.”
“Tahun?” Agni semakin mencecar Elang, dia tak ingin jawaban itu yang didapat dari Elang. Matanya semakin menyiratkan lo-masa-lupa.
“2010 lah Agni cantiiiik,” jawab Elang santai sambil mengacak rambut Agni lucu, “Kak, alarm kalender lo hari ini nggak bunyi?”
“Agni, lo sebenernya ada apa sih? Gue jadi bingung. Alarm gue bunyi, kan lo udah suruh gue supaya masang alarm tiap pagi,” jawab Elang polos sambil menatap gadis di depannya dengan penuh tanda tanya.
“Nggak. Mungkin nggak penting,” hela Agni lesu. Elang jadi merasa bersalah, ditariknya kedua bahu itu, agar Agni tak lagi menghindari pandangannya.
“Ag, sumpah maafin gue kalo gue lupa. Tapi, hari ini emang ada apa? Bukannya lo ultah tanggal 15 Desember?” Agni hanya menggeleng pelan dan memaksakan sebuah senyuman muncul dibalik kedua bibirnya. Tiba-tiba, hp Elang berdering. Ada panggilan masuk, “Bentar ya, Ag,” Elang segera mengangkat telepon itu. Sesekali, ia tertawa dan tersenyum. Agni tahu, itu pasti dari Elongated. Sebuah fansELub untuk Elang. Ia tahu, Elang adalah seorang public figure dan memiliki sederet jadwal yang harus ia jalani. Tapi, jujur untuk yang satu ini, Agni merasa sangat kecewa. Elangsama sekali tidak mengingat bahwa hari ini, adalah hari dimana ia menyatakan cinta pada dirinya, setahun lalu. Bahkan, Agni sudah menyiapkan sebuah hadiah untuk Elang. Sekarang, rencana itu harus dibatalkan. Biarlah, mungkin hari ini hanya dia yang akan merayakan hari itu. Sendiri.

Elang menyudahi teleponnya, dan menatap Agni cerah, “Ag, gue tau hari ini hari apa!” seru Elang senang. Agni kembali menyiratkan sebuah senyum.
“Hari ini kan anniversary gue sama EL yang kedua ya, kan? Akhirnya gue inget, thanks a lot sayaaang,” dengan segera, Elang menarik Agni ke pelukannya. Walaupun ia bisa merasakan betapa hangatnya pelukan Elang, dia hanya bisa mendesah panjang. Agni  melepas pelukannya.

“Kak, mendingan lo siap-siap deh. Nggak enak kan, kalo EL nunggu lo! Acaranya mau diadain dimana?” Tanya Agni sambil berusaha bersikap sebiasa mungkin. Elang tersenyum dan mengatakan bahwa acaranya akan diadakan di sebuah café di daerah Kemang. Agni mengangguk dan mengambilkan tas Elang, “Pulang gih, siap-siap! Bolanya biar gue yang bawa.”

“Ag, lo ikut aja sama gue, ya. Gue kenalin lo sama anak-anak EL,” ajak Elang, Agni hanya menggeleng dan mendorong punggung Elang, “Nggak usah, yang ada ntar gue disantap sama fans lo! Buruan, dandan yang cakep ya!” Elang tertawa dan bergegas menaiki Cagiva hitamnya, “Ag!” seru Elang, Agni menoleh dan mendekatinya, “Ada apa?” Elang tidak mengeluarkan sebuah kata, tapi memberikan sebuah ciuman di pipi Agni, kemudian menggas pelan Cagivanya.

Agni memandangi motor itu menjauh darinya. Di pegangnya lagi pipi, tempat dimana Elang baru saja menciumnya. Rasanya dia sedang tak bisa berbunga-bunga seperti biasanya. Akhirnya, dengan gontai ia kembali menyusuri jalan komplek untuk pulang ke rumahnya.

***

i-phone itu berdering saat ia sedang bersiap-siap ke kamar mandi, “Halo Yar, ada apa?” ternyata Yara mengajaknya ke café yang kebetulan dijadikan tempat acara M&G Elang dan EL. Awalnya Agni menolak untuk ikut. Tapi, Yara, Saviza dan Ify terus-terusan merengek agar ia ikut. Dengan sedikit berat hati, ia menerima ajakan ketiga sahabatnya.

***

Suasana café bergaya klasik itu tertib, tak seperti yang dibayangkan Agni sebelumnya. Ia kira, ia akan menemukan segerombolan gadis dengan heboh meneriaki nama kekasihnya, yang sekarang sedang duduk di depan sebuah panggung sambil memangku sebuah gitar. Lelaki itu kini terlihat tampan dan senyum di pipinya terus mengembang. Agni tak ingin terus menatap lelaki itu. Membuatnya kesal.

“Agni, duduk dong! Masa berdiri terus?” ajakan Saviza membuatnya tersadar, bahwa ia sama sekali belum duduk. Sementara ketiga temannya menatap ke arahnya dengan heran.
“Ahelah Ag, Kak Elang nggak bakal ilang kok! Nggak usah dipantengin terus!” cerocos Yara. Agni hanya tertawa pelan dan menyusul ketiga temannya untuk duduk.

“Kok M&G nya nggak rusuh, ya?” Tanya Ify polos.
“Odong lu! Kalo rusuh, ntar Kak Elang bonyok-bonyok dong!” timpal Saviza.
“Nggak gitu Vi, biasanya kan kalo M&G suka ribut gitu.”
“Yee, liat dong ke tempat parkirnya! Yang berderet tuh sekelas Jazz, Swift, City sama Yaris gitu. Gengsi amat dah, kalo sampe ribut-ribut,” kali ini jawaban dari Yara agak masuk akal. Mobil yang berderet itu kebanyakan adalah milik EL. Jadi, wajar saja tidak ada keributan yang terjadi. Agni hanya diam, tak ingin menjawab apapun.

“ELAAANG, GUE CINTA SAMA LO!” teriak salah satu fans dari arah pintu café. Semua orang menoleh ke arahnya. Dengan bergegas, gadis muda itu berlari ke arah Elang dan memeluknya. Semua orang terperanjat. Termasuk Agni. Ada rasa takut dan cemburu di hatinya, ia takut Elang akan kembali menjadi Elang yang dulu. Playboy.

“Elang, lo mau kan jadi cowok gue?” Tanya gadis itu lagi spontan. Membuat hati Agni panas. Elang terlihat bingung, “Siapa nama lo?” Tanya Elang santai.
“Gue Dea. Gue udah lama ngamatin lo diem-diem, gue tau semua tentang lo,” jawabnya riang. Gadis itu terlihat classy dan glamour. Tipe yang Elang suka. Agni semakin panik dibuatnya. Karena sampai saat ini, Elang sama sekali belum memberitahukan bahwa ia telah memiliki seorang pacar.

“Kenapa lo mau jadi cewek gue?” justru pertanyaan itu yang keluar dari mulut Elang. Sungguh, ingin rasanya Agni berlari ke depan panggung dan memberitahu semua gadis, bahwa ialah kekasih Elang. Agar semua gadis tidak bersikap berlebihan pada Elang. Tapi, ditahannya kuat-kuat perasaan itu.

“Kalo gue bilang, kalo gue udah punya cewek. Gimana?”
“Putusin cewek lo, terus jadian sama gue. Gampang, kan?” Agni tersedak mendengar jawaban gadis itu. Apa katanya? Dia menyuruh Elang untuk memutuskan pacarnya kemudian Elangbersamanya. Great! Sementara itu, ketiga sahabatnya menenangkan Agni dan mengumpat ke arah gadis itu.

“Bagus juga ide lo, De,” DEGG!! Agni reflek menatap Elang, walaupun Elang tidak menyadari kedatangannya. Yang ditakutkannya, kini terulang lagi dihadapannya.
“Sori, guys. Gue duluan, ya. Ada urusan,” pamit Agni pada ketiga temannya. Saat ketiga sahabatnya berusaha mencegah kepergian Agni, Agni langsung menyetop sebuah taksi dan meminta untuk mengantarnya ke sebuah jalan.

***

Jalan Djogdja.
Jalan ini memang sebuah jalan tua yang sudah ada sejak negeri ini masih dibawah kendali Negara dengan ibukota Amsterdam itu. Dulu, jalan ini adalalah jalan utama menuju daerah Tanjung Priok. Tapi, sekarang jalan itu sudah beralih fungsi. Tak banyak yang menggunakan jalan ini. Karena ada jalan yang lebih cepat untuk ke Tanjung Priok. Pohon-pohon besar di kedua sisi jalannya masih dengan setia menyediakan kesejukan bagi penggunanya. Agni berjalan sendiri menyusuri jalan itu. Ia duduk di sebuah bangku dibawah sebuah pohon besar. Bangku taman itu sudah kotor, menandakan tak ada yang menggunakannya. Agni mengangkat kedua kakinya, dan memeluknya erat. Menenggelamkan wajah diantaranya.

“Sakit ya, Ag?” Agni mengangkat wajahnya dan mendapati Elang sedang duduk disampingnya sambil menatap ke arah jalan. Datar.
“Ngapain lo disini?”
“Pengen nemuin lo, Ag,” Agni mengalihkan pandangannya ketika Elangmenatapnya.
“Urus aja fans lo itu!” seru Agni sambil bangkit dari duduknya. Tapi, sayang Agni kalah cepat. Elang langsung menarik tangan Agni dan memeluknya.
Happy anniversary for us, sayang,” kata Elang lembut di telinga Agni. Agni tertegun.
“Gue nggak akan sekejam itu, Ag. Gue inget kok, hari ini tepat setaun kita jadian.”
“Thanks, maafin gue, Kak. Gue udah nyangka lo yang nggak-nggak. Hmm…  Dea…” Elang tertawa, “Itu ide gue,” seru Elang sambil memeletkan lidahnya dan bergegas berlari menjauhi Agni.
“SIALAAAN!” Agni mengejar Elang. Dan tepat di tempat pertama mereka saling menautkan janji untuk menjadi sepasang kekasih itu, mereka hiasi kembali dengan tawa.

Tiba-tiba, Elang merangkul pinggang Agni dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Kak,” kata Agni salah tingkah.
“Aku tresno karo kowe, cah ayu,” ucap Elang tulus, semakin membuat Agni tak menemukan jawaban yang pas untuk membalas. Ia hanya bisa membalas lewat pandangan matanya.
“Kak, turunin gue!”

You May Also Like

0 comments

Powered by Blogger.

Popular Posts

About