Fashion Against Love

by - 22:47


Final Chapter (part II):
Of the Way (all we can do is find the courage to stay)

“Iya, aku sedang bersiap-siap. Lagipula, kita harus disana jam Sembilan, bukan?” Yoona membalas rentetan pertanyaan Sooyoung dari balik handphonenya. Ia baru menyadari bahwa sahabatnya ini bisa jadi sangat rewel ketika waktunya untuk meeting. Oh, mungkin ketika waktunya untuk membalas perbuatan sang rival, Elena Tan, if you ever forget.

Belum juga percakapan telepon itu selesai, intercom Yoona sudah berdering dan ketika ia hampiri, ia sudah disajikan dengan wajah jutek milik sahabatnya.
Ia segera membuka pintu dan membiarkan sahabatnya itu masuk, “Ini masih jam delapan, Sooyoung.”
You know I’m itchy with ‘late’ things, so hurry up!” Sooyoung lalu menepukkan kedua tangannya, memerintahkan sahabatnya untuk segera berangkat. Yoona hanya terkekeh dan mengikuti kemauannya. Ia hanya tidak ingin memilki another early bickerings okay.
Selama perjalanan mereka menuju gedung SM. Ent, Yoona memperhatikan Sooyoung yang berkali-kali mencoba untuk menghubungi seseorang, awalnya ia tidak begitu peduli, tetapi aktivitasnya itu membuatnya terganggu juga, akhirnya ia alihkan pandangannya dari jalanan untuk sekilas menoleh pada sahabatnya, “Kau mau menelepon siapa, huh?”
“Aku mencoba menghubungi Kyuhyun, tapi kanguru bodoh itu tidak menjawab.”
“Untuk apa kau hubungi dia?”
“Oh come on Yoona, apa kau tidak tau tentang rencananya untuk pindah ke Jepang?”
Yoona mengernyitkan dahi sambil membagi konsentrasinya antara menyetir dan mendengarkan ocehan Sooyoung, “Pindah ke Jepang?”
“Ya, terakhir kali aku meneleponnya ia bilang ia akan pindah ke Jepang. Entahlah, find new circumstances may be?” jawab Sooyoung sambil kini sibuk mengetik sesuatu di handphonenya.
“Oh, lalu kenapa kau begitu ingin meneleponnya?”
God, Yoona apakah ia tak memberitahumu sedikitpun?” Sooyoung menatapnya dengan ketersimaan hebat, dan ketika Yoona hanya menggeleng, Sooyoung mengangguk paham, “Hari ini ia berangkat ke Jepang, kurasa pukul 11 siang nanti.”
Yoona tidak menjawab atau bertanya sesuatu lagi, ia hanya menatap lurus ke depan, namun cengkramannya pada stir mobil semakin menguat.
***
Elena masih mempresentasikan konsep terbarunya di hadapan perwakilan SM, Yoona dan juga Sooyoung. Konsepnya bertema Rainbow surfs, dengan paduan warna dan make up yang cerah, namun tak semua inti dapat Yoona tangkap karena sekarang pikirannya terbelah menjadi dua. Dia ingin menyusulnya, walaupun ia tidak tau apa yang akan ia lakukan ketika ia bertemu Kyuhyun nantinya. Mengucapkan terimakasih? Untuk apa, atau mengucapkan perpisahan? Tapi, Jepang tidak sejauh Eropa.
Yoona memijat keningnya pelan, pikirannya kacau dan setelah Elena selesai dengan presentasinya, Yoona harus segera mempresentasikan miliknya sendiri.
Belum sempat ia mencari jalan keluar, handphonenya bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk.
Sambil mencuri kesempatan, Yoona membuka isi pesan tersebut, dari Kyuhyun.
Yoona-ya, lihat ke samping.
Yoona mengernyit, kemudian menoleh ke samping, dibalik pemisah ruangan yang berupa kaca itu ia menemukan Kyuhyun disana. Berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia masih disana. Kyuhyun kemudian mengangkat satu jempolnya dan tersenyum bodoh, membuat Yoona ikut tersenyum juga.
Tepat ketika Yoona mengembalikan fokusnya pada presentasi Elena, Elena menutup penampilannya dan nama Yoona dipanggil.
You can beat their head, Yoona!” Sooyoung menyemangati dnegan suara pelan, membuat Yoona memiliki kepercayaan lebih.
Yoona memberikan penjelasan mengenai konsepnya sedetail dan semenyenangkan mungkin, sebenarnya ia sudah terbiasa dengan hal ini, tapi kali ini ia sangat bersemangat menyampaikan idenya.
Sesekali ia menoleh keluar dan masih menemukan Kyuhyun berdiri disana.
“Yoona-ssi, apa yang membuatmu memilih Bali? Kau tau sendiri kita memiliki iklim yang berbeda dengan Bali, apa kau yakin konsepmu akan berjalan sempurna?” salah satu perwakilan SM bertanya dan Yoona baru saja akan menjawab, tetapi ketika ia menoleh, Kyuhyun sudah tidak disana, ia diam-diam melirik jam di pergelangan tangannya dan jam menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit.
“Ne? Alasanku memilih Bali,” Yoona mengernyit, kehilangan fokus dan mengalihkan pandangannya pada Sooyoung. Ia juga sama bingungnya dengan Yoona, yang membedakan adalah Sooyoung diam-diam menyukai reaksi Yoona.
“Alasanku memilih Bali karena Bali berbeda. Kenapa kita harus selalu sesuai dengan aturan yang ada, maksudku kita memang memiliki empat musim, tetapi tidakkah orang-orang bosan dengan selera yang itu-itu saja? Aku yakin orang-orang ingin sesuatu yang beda dan baru. Entahlah, aku rasa kita harus berani keluar dari kotak, dengan begitu kita bisa mengahadapi tantangan lain.”
Perwakilan SM mengerutkan kening mendengar penjelasan Yoona, namun akhirnya mereka mengangguk dan tersenyum simpul.
“Satu kata yang ingin kau katakan sebagai penutup, Yoona-ssi?” Tanya sang moderator ketika sesi Tanya-jawab itu berakhir.
Because fashion is love.”
***
“Yoona, kau mau ikut aku ke bandara atau tidak?” Tanya Sooyoung sambil membuka pintu pengemudi mobil miliknya.
“Mungkin tidak, ada yang mesti aku selesaikan hari ini.”
Don’t play stupid with me, Yoona. Apa kau masih butuh alasan untuk mencegahnya pergi?”perkataan Sooyoung tepat menarik semua perhatian Yoona.
“Aku sudah putus dengannya dan seharusnya kau mendukungku untuk move on, bukan?” Yoona beralasan sambil langsung beranjak dari mobil Sooyoung.
“Ya, kau mau kemana? Yoona!” ia berteriak ketika melihat sahabatnya berjalan keluar gedung SM. Ent.
“Aku akan naik taksi!”
“Kau mau kemana dengan taksi?”
“Ke bandara tentu. Aku tau hari ini Changmin-oppa baru tiba di Seoul, jadi sambutlah dia dulu, ne?”
Sooyoung mengerjapkan matanya tidak percaya. She got tricked by her?! Dia buru-buru pulih, “Kau!” ia bahkan kehabisan kata-kata.
“Aku tau aku hebat, Sooyoung-ah. See you soon,” gadis itu melambai kecil sambil memasuki sebuah taksi yang kebetulan sudah berhenti di hadapannya.
Di dalam taksi, Yoona langsung memberitahukan supir taksi agar bergegas menuju bandara, karena kalau tidak, dia berjanji akan menghancurkan mesin argo taksi itu.
Sementara itu, Sooyoung yang tertinggal di belakang tidak sanggup menahan seringai kecilnya. Mission half accomplished.
“Sooyoung-ssi,” panggil seseorang membuat Sooyoung segera menoleh pada sumber suara, “Oh, jadi kau benar-benar sudah tiba di Seoul?”
***
Yoona sudah tiba di bandara dan ketika ia melirik jam digital besar di tengah-tengah bandara, jam itu sudah menunjukkan pukul 10.50. ia bergegas menuju gate keberangkatan, namun ia berhenti. Ia menepuk jidat, ia tidak tahu Kyuhyun akan berangkat dari gate nomor berapa. Ia menelepon Sooyoung, namun sahabatnya itu justru mematikan handphonenya. Akhirnya, Yoona bergegas mencari board airplane schedule. Beruntung tak jauh disana, ia menemukan board itu. Ia langsung mencari keberangkatan ke Jepang, dan disana menunjukkan gate 2. Ia lalu bergegas menuju gate 2, karena waktunya tak banyak.
Di depan ruang tunggu gate 2, ia tidak melihat sosok Kyuhyun. Panik, ia meraih handphonenya dan mencoba menghubungi Kyuhyun, namun Kyuhyun tidak juga mengangkat teleponnya.
Yoona berkali-kali mencoba menghubungi Kyuhyun dan Sooyoung, tapi mereka berdua benar-benar tak bisa dilacak. Dan ketika speaker di sudut-sudut bandara mengumumkan keberangkatan pesawat jurusan Seoul-Tokyo, Yoona menurunkan handphone dari telinganya. Semuanya berjalan seperti slow motion, dengan begitu banyak orang yang saling berpelukan di hadapannya, saling mengucapkan kata perpisahan dan doa. Ia hanya berdiri disana. Mematung, seperti penonton.
Lagu the girl who can’t break up and the guy who can’t leave pelan mengalun memperburuk perasaan Yoona. Ia menoleh dan mendapati seorang remaja dengan sengaja mendengar mp3 lagu tersebut tanpa headset. Menyadari Yoona memberinya suatu tatapan intimidasi, remaja itupun langsung membungkuk dan meminta maaf.
Yoona menarik napas dan akhirnya menyeret kaki untuk segera keluar dari bandara. Ia menyembunyikan wajahnya sambil menunduk. Suatu hal yang bodoh karena ketika ia berjalan, ia tidak sengaja menabrak seseorang.
Ia buru-buru meminta maaf sambil membungkukkan badannya, namun ketika ia mengangkat wajahnya, “Oppa?”
Kyuhyun berdiri di hadapannya sambil menaikkan alisnya. Lucu.
“Kau? Bukankah harusnya kau ke Jepang?”
“Ah, ya aku memang akan ke Jepang deng—“ kalimatnya terputus karena tiba-tiba saja Yoona langsung memeluknya erat.
“Tunggu, ini tidak akan lama. Aku, aku what the—,” Yoona kehilangan kemampuan dasarnya untuk menyusun sebuah kata, yang seharusnya anak sd pun bisa melakukannya, tetapi she’s just being Yoona okay.
Dia memutar bola matanya annoyed, sementara Kyuhyun masih diam menunggu kelanjutan perkataannya, tetapi tiba-tiba Yoona berjinjit dan mengecup pipinya singkat.
Kyuhyun masih belum sadar dengan apa yang baru saja terjadi, tetapi melihat wajah gadis di hadapannya merona malu, ia kembali meraih kesadarannya, “Yoona, ada yang harus aku katakan sebelum kau pergi.”
Yoona menatapnya heran dan menunggu kelanjutan kalimat Kyuhyun.
“Apa yang terjadi pada kita kemarin, aku pikir itu memang salahku. Aku terlalu sibuk dan membiarkan hubungan kita menjenuh, padahal seharusnya yang kulakukan justru sebaliknya,” Kyuhyun menjelaskan sambil menatap Yoona serius. Ia memasukkan salah satu tangan pada kantong jeansnya, menggenggam erat sesuatu.
“Tapi satu yang aku ingin tanyakan, kenapa kau biarkan aku sibuk, Yoona? Kenapa kau tak mencoba menegur atau memarahiku? Aku merasa seperti orang jahat, kau tahu.”
Yoona coba mencerna perkataannya barusan, kemudian terkekeh, “Aku tidak ingin kau menganggapku sebagai beban, oppa. Pekerjaanmu aku yakin sudah membuatmu lelah, lalu jika aku meminta perhatianmu aku takut kau justru, err… kau justru mengacuhkanku,” Yoona mengatakan tiga kata terakhir itu hampir seperti bisikan, tetapi untung Kyuhyun bisa menangkapnya dengan jelas.
“Kalau begitu, jika aku memintamu untuk kembali, maukah kau kembali untukku?” Yoona tersenyum dan mengangguk pelan.
“Err, sebenarnya ada satu hal lagi, aku pergi ke Jepang bukan sekarang tetapi nanti pukul empat sore.”
“Ne?” Yoona terkejut dan membulatkan matanya maksimal. Tunggu, ia sepertinya mulai bisa membaca situasi.
“Kau tau, Sooyoung menyuruhku datang ke bandara karena dia bilang kau akan pergi ke Perancis untuk meneruskan karirmu sebagai desainer. Jadi, aku well, aku ingin mengucapkan hal itu sebelum kau pergi.”
“Jadi Sooyoung…” Yoona harusnya bisa menduga ini semua adalah permainan Choi Sooyoung. Tiba-tiba saja rasa malu dan panik menghampirinya, she felt like crying and she did.
Kyuhyun yang melihat Yoona menangis tiba-tiba terserang panik dan bingung, ia langsung merangkul Yoona dan mengusap punggungnya, “Kau kenapa Yoona?”
I hate my best friend,” dia mengeluh kecil dibalik kemeja Kyuhyun, menyembunyikan wajahnya. Sementara Kyuhyun menaruh dagunya tepat di puncak kepala Yoona, tersenyum.
“Hey, kalian seharusnya berterimakasih. You guys have me to solve your sick love problem,” suara Sooyoung tiba-tiba terdengar dan membuat Yoona semakin menyembunyikan wajahnya. Malu.
“Yoona-ya, katakan terimakasih,” Sooyoung memaksa dengan keras kepala. Yoona yang mendengar langsung mengangkat wajahnya dan menatap Sooyoung intens, “I. Hate. You,” timpal Yoona kesal, dan itu hanya membuat Sooyoung tertawa geli.
“Entahlah aku harus berterimakasih atau tidak padamu, tetapi aku liat kau sudah menemukan seseorang. Well, akhirnya aku tau kenapa kau tidak mengantar Yoona seperti seharusnya, jadi kau dan Changmin sudah bersama?” Kyuhyun menyeringai melihat Changmin yang menyusul mereka dari belakang, membuat keduanya salah tingkah.
“Yang kau harus lakukan hanya berdoa untukku, Kyuhyun-ah. Sepertinya sebentar lagi aku akan membeli sebuah apartemen dengan seorang gadis,” goda Changmin yang membuat Sooyoung iritasi.
Shut up,” tutup gadis tinggi itu singkat.
***
Seoul, August’06 05.00 p.m.
It’s been moths since they (I mean Kyu and Yoona) have gone back together and they’ve been pretty well. Dan lihat, sekarang mereka memutuskan untuk menikah bulan depan, and that means I have to hear their bickering towards the marriage stuffs. Aku senang akhirnya dua orang bodoh itu menyadari bahwa mereka memang untuk satu sama lain.
May be what I said on the last post was entirely wrong. Aku bilang “Because fashion means love, but love doesn’t mean fashion” mungkin harus aku revisi sedikit. Hanya sedikit. Love is indeed fashion, when you got into it, you will surely know that love have different sides that always bring you down and up on a role. Argghh, ini membingungkan dan aku benci hal seperti ini.
Kini aku tidak menulis sendiri, di sampingku sudah ada seseorang yang willing enough with my habits and he’s perfect just by it. And he sleeps so well. Yeah, this gonna be a happy ending. I thought.

Sooyoung tersenyum kecil sebelum akhirnya selesai menulis di diari mayanya. Ia meletakkan laptop berikut koneksinya di meja yang berada di samping bangku taman, kemudian ia beralih pada seseorang yang sudah pulas dengan tidurnya.
“Berhenti menatapku atau kau akan jatuh lebih dalam padaku,” Changmin bergumam sementara matanya masih tertutup rapat.
Hey you didn’t sleepWake upOh come on, aku tidak akan jatuh kedua kalinya kau tahu.”
Changmin tertawa pelan dan membuka matanya, menatap gadis di hadapannya, “Aku tidak ingin kau jatuh dua kali, Sooyoung-ah. Cukup sekali dan jangan coba-coba untuk bangkit dari sana, ne?”
Sooyoung tidak bisa menahannya lagi, ia tertawa lepas tidak tahan dengan kalimat yang baru saja Changmin ucapkan. It’s a bit, I mean really cheesy.
“Sooyoung-ah,” panggil Changmin dan Sooyoung pun menoleh, tawanya tercekat ketika ia melihat Changmin mendekat dan meraih dagunya dengan ibu jari dan telunjuk, they are about to kiss when
“Dwaesseo (it’s done)!” teriakan Kyuhyun membuat Changmin dan Sooyoung mengalihkan perhatian mereka pada sumber suara.
“Oppa, jika kita beri ini pada jurnalis, berapa banyak yang bisa kita dapat?” Tanya Yoona sambil mengamati hasil foto Kyuhyun.
“Mungkin 50.000 won?” jawab Kyuhyun tak pasti.
“Bisakah kita meminta 100.000?”
“Aku sedikit ragu, Yoona-ya. Lihat, mereka belum sempat melakukannya, jadi harganya tidak mungkin bisa semahal itu.”
“YA! Sedang apa kalian berdua, hah?!” Changmin yang merasa annoyed dengan percakapan mereka, akhirnya mengajukan komplain.
“Sejak kapan kalian berdua disini?” kali ini Sooyoung yang bertanya.
“Sebenarnya kami lebih dulu tiba disini, tetapi mungkin kalian tidak bisa melihat kami karena tong besar ini, tapi hasil yang kami dapat tidak sia-sia, betul oppa?”
Kyuhyun mengangguk dan memamerkan foto hasil jipratannya di hadapan Sooyoung dan Changmin.
“Kyuhyun-ah, jebal. Jangan kau berikan pada jurnalis, ne?” Changmin menyerah dan mencoba merayu that little evil couple.
“Apa yang akan kami dapat?”
“Apapun. I mean, oh come on you kangaroo!” Changmin mendekati sahabatnya itu dan mengunci lehernya dengan sebuah pitingan, sementara Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.
It’s really a happy ending, right?” Tanya Sooyoung pada Yoona.
“Memang seharusnya begitu,” jawabnya santai sambil mengamati cincin yang melingkar manis di jarinya.
Fin.


You May Also Like

0 comments

Powered by Blogger.

Popular Posts

About