Fashion Against Love
Final Chapter (part II):
Of the Way (all we can do is find the courage
to stay)
“Iya, aku
sedang bersiap-siap. Lagipula, kita harus disana jam Sembilan, bukan?” Yoona
membalas rentetan pertanyaan Sooyoung dari balik handphonenya. Ia baru
menyadari bahwa sahabatnya ini bisa jadi sangat rewel ketika waktunya untuk meeting. Oh, mungkin ketika waktunya untuk membalas
perbuatan sang rival, Elena Tan, if you ever forget.
Belum juga percakapan telepon itu
selesai, intercom Yoona sudah berdering dan ketika ia hampiri, ia sudah
disajikan dengan wajah jutek milik sahabatnya.
Ia segera membuka pintu dan membiarkan
sahabatnya itu masuk, “Ini masih jam delapan, Sooyoung.”
“You know I’m itchy with ‘late’ things, so hurry up!”
Sooyoung lalu menepukkan kedua tangannya, memerintahkan sahabatnya untuk segera
berangkat. Yoona hanya terkekeh dan mengikuti kemauannya. Ia hanya tidak ingin
memilki another early bickerings okay.
Selama perjalanan mereka menuju gedung
SM. Ent, Yoona memperhatikan Sooyoung yang berkali-kali mencoba untuk
menghubungi seseorang, awalnya ia tidak begitu peduli, tetapi aktivitasnya itu
membuatnya terganggu juga, akhirnya ia alihkan pandangannya dari jalanan untuk
sekilas menoleh pada sahabatnya, “Kau mau menelepon siapa, huh?”
“Aku mencoba menghubungi Kyuhyun, tapi
kanguru bodoh itu tidak menjawab.”
“Untuk apa kau hubungi dia?”
“Oh come on Yoona, apa kau tidak tau tentang
rencananya untuk pindah ke Jepang?”
Yoona mengernyitkan dahi sambil membagi
konsentrasinya antara menyetir dan mendengarkan ocehan Sooyoung, “Pindah ke
Jepang?”
“Ya,
terakhir kali aku meneleponnya ia bilang ia akan pindah ke Jepang. Entahlah, find new circumstances may be?” jawab Sooyoung sambil
kini sibuk mengetik sesuatu di handphonenya.
“Oh, lalu kenapa kau begitu ingin
meneleponnya?”
“God, Yoona apakah ia tak memberitahumu sedikitpun?”
Sooyoung menatapnya dengan ketersimaan hebat, dan ketika Yoona hanya
menggeleng, Sooyoung mengangguk paham, “Hari ini ia berangkat ke Jepang, kurasa
pukul 11 siang nanti.”
Yoona tidak menjawab atau bertanya
sesuatu lagi, ia hanya menatap lurus ke depan, namun cengkramannya pada stir mobil
semakin menguat.
***
Elena masih
mempresentasikan konsep terbarunya di hadapan perwakilan SM, Yoona dan juga
Sooyoung. Konsepnya bertema Rainbow surfs,
dengan paduan warna dan make up yang cerah, namun tak semua inti dapat Yoona
tangkap karena sekarang pikirannya terbelah menjadi dua. Dia ingin menyusulnya,
walaupun ia tidak tau apa yang akan ia lakukan ketika ia bertemu Kyuhyun
nantinya. Mengucapkan terimakasih? Untuk apa, atau mengucapkan perpisahan?
Tapi, Jepang tidak sejauh Eropa.
Yoona memijat keningnya pelan,
pikirannya kacau dan setelah Elena selesai dengan presentasinya, Yoona harus
segera mempresentasikan miliknya sendiri.
Belum sempat ia mencari jalan keluar,
handphonenya bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk.
Sambil mencuri kesempatan, Yoona membuka
isi pesan tersebut, dari Kyuhyun.
Yoona-ya,
lihat ke samping.
Yoona mengernyit, kemudian menoleh ke
samping, dibalik pemisah ruangan yang berupa kaca itu ia menemukan Kyuhyun
disana. Berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia masih disana.
Kyuhyun kemudian mengangkat satu jempolnya dan tersenyum bodoh, membuat Yoona
ikut tersenyum juga.
Tepat ketika Yoona mengembalikan
fokusnya pada presentasi Elena, Elena menutup penampilannya dan nama Yoona
dipanggil.
“You can beat their head, Yoona!” Sooyoung menyemangati
dnegan suara pelan, membuat Yoona memiliki kepercayaan lebih.
Yoona memberikan penjelasan mengenai
konsepnya sedetail dan semenyenangkan mungkin, sebenarnya ia sudah terbiasa
dengan hal ini, tapi kali ini ia sangat bersemangat menyampaikan idenya.
Sesekali ia menoleh keluar dan masih
menemukan Kyuhyun berdiri disana.
“Yoona-ssi, apa yang membuatmu memilih
Bali? Kau tau sendiri kita memiliki iklim yang berbeda dengan Bali, apa kau
yakin konsepmu akan berjalan sempurna?” salah satu perwakilan SM bertanya dan
Yoona baru saja akan menjawab, tetapi ketika ia menoleh, Kyuhyun sudah tidak
disana, ia diam-diam melirik jam di pergelangan tangannya dan jam menunjukkan
pukul 10 lewat 15 menit.
“Ne? Alasanku memilih Bali,” Yoona
mengernyit, kehilangan fokus dan mengalihkan pandangannya pada Sooyoung. Ia
juga sama bingungnya dengan Yoona, yang membedakan adalah Sooyoung diam-diam
menyukai reaksi Yoona.
“Alasanku memilih Bali karena Bali
berbeda. Kenapa kita harus selalu sesuai dengan aturan yang ada, maksudku kita
memang memiliki empat musim, tetapi tidakkah orang-orang bosan dengan selera
yang itu-itu saja? Aku yakin orang-orang ingin sesuatu yang beda dan baru.
Entahlah, aku rasa kita harus berani keluar dari kotak, dengan begitu kita bisa
mengahadapi tantangan lain.”
Perwakilan SM mengerutkan kening
mendengar penjelasan Yoona, namun akhirnya mereka mengangguk dan tersenyum
simpul.
“Satu kata yang ingin kau katakan
sebagai penutup, Yoona-ssi?” Tanya sang moderator ketika sesi Tanya-jawab itu
berakhir.
“Because fashion is love.”
***
“Yoona, kau mau ikut aku ke bandara atau
tidak?” Tanya Sooyoung sambil membuka pintu pengemudi mobil miliknya.
“Mungkin tidak, ada yang mesti aku
selesaikan hari ini.”
“Don’t play stupid with me, Yoona. Apa kau masih butuh
alasan untuk mencegahnya pergi?”perkataan Sooyoung tepat menarik semua
perhatian Yoona.
“Aku sudah
putus dengannya dan seharusnya kau mendukungku untuk move on, bukan?”
Yoona beralasan sambil langsung beranjak dari mobil Sooyoung.
“Ya, kau mau kemana? Yoona!” ia
berteriak ketika melihat sahabatnya berjalan keluar gedung SM. Ent.
“Aku akan naik taksi!”
“Kau mau kemana dengan taksi?”
“Ke bandara tentu. Aku tau hari ini
Changmin-oppa baru tiba di Seoul, jadi sambutlah dia dulu, ne?”
Sooyoung
mengerjapkan matanya tidak percaya. She got tricked by her?!
Dia buru-buru pulih, “Kau!” ia bahkan kehabisan kata-kata.
“Aku tau aku
hebat, Sooyoung-ah. See you soon,” gadis
itu melambai kecil sambil memasuki sebuah taksi yang kebetulan sudah berhenti
di hadapannya.
Di dalam taksi, Yoona langsung
memberitahukan supir taksi agar bergegas menuju bandara, karena kalau tidak,
dia berjanji akan menghancurkan mesin argo taksi itu.
Sementara
itu, Sooyoung yang tertinggal di belakang tidak sanggup menahan seringai
kecilnya. Mission half accomplished.
“Sooyoung-ssi,” panggil seseorang
membuat Sooyoung segera menoleh pada sumber suara, “Oh, jadi kau benar-benar
sudah tiba di Seoul?”
***
Yoona sudah
tiba di bandara dan ketika ia melirik jam digital besar di tengah-tengah
bandara, jam itu sudah menunjukkan pukul 10.50. ia bergegas menuju gate
keberangkatan, namun ia berhenti. Ia menepuk jidat, ia tidak tahu Kyuhyun akan
berangkat dari gate nomor berapa. Ia menelepon Sooyoung, namun sahabatnya itu
justru mematikan handphonenya. Akhirnya, Yoona bergegas mencari board airplane schedule. Beruntung tak jauh disana, ia
menemukan board itu. Ia langsung mencari keberangkatan ke Jepang, dan disana menunjukkan
gate 2. Ia lalu bergegas menuju gate 2, karena waktunya tak banyak.
Di depan ruang tunggu gate 2, ia tidak
melihat sosok Kyuhyun. Panik, ia meraih handphonenya dan mencoba menghubungi
Kyuhyun, namun Kyuhyun tidak juga mengangkat teleponnya.
Yoona
berkali-kali mencoba menghubungi Kyuhyun dan Sooyoung, tapi mereka berdua
benar-benar tak bisa dilacak. Dan ketika speaker di sudut-sudut bandara
mengumumkan keberangkatan pesawat jurusan Seoul-Tokyo, Yoona menurunkan
handphone dari telinganya. Semuanya berjalan seperti slow motion, dengan
begitu banyak orang yang saling berpelukan di hadapannya, saling mengucapkan
kata perpisahan dan doa. Ia hanya berdiri disana. Mematung, seperti penonton.
Lagu the girl who can’t break up and the guy who can’t leave pelan
mengalun memperburuk perasaan Yoona. Ia menoleh dan mendapati seorang remaja
dengan sengaja mendengar mp3 lagu tersebut tanpa headset. Menyadari Yoona
memberinya suatu tatapan intimidasi, remaja itupun langsung membungkuk dan
meminta maaf.
Yoona menarik napas dan akhirnya
menyeret kaki untuk segera keluar dari bandara. Ia menyembunyikan wajahnya
sambil menunduk. Suatu hal yang bodoh karena ketika ia berjalan, ia tidak
sengaja menabrak seseorang.
Ia buru-buru meminta maaf sambil
membungkukkan badannya, namun ketika ia mengangkat wajahnya, “Oppa?”
Kyuhyun berdiri di hadapannya sambil
menaikkan alisnya. Lucu.
“Kau? Bukankah harusnya kau ke Jepang?”
“Ah, ya aku memang akan ke Jepang deng—“
kalimatnya terputus karena tiba-tiba saja Yoona langsung memeluknya erat.
“Tunggu, ini
tidak akan lama. Aku, aku what the—,” Yoona
kehilangan kemampuan dasarnya untuk menyusun sebuah kata, yang seharusnya anak
sd pun bisa melakukannya, tetapi she’s just being Yoona okay.
Dia memutar
bola matanya annoyed, sementara Kyuhyun masih diam menunggu
kelanjutan perkataannya, tetapi tiba-tiba Yoona berjinjit dan mengecup pipinya
singkat.
Kyuhyun masih belum sadar dengan apa
yang baru saja terjadi, tetapi melihat wajah gadis di hadapannya merona malu,
ia kembali meraih kesadarannya, “Yoona, ada yang harus aku katakan sebelum kau
pergi.”
Yoona menatapnya heran dan menunggu
kelanjutan kalimat Kyuhyun.
“Apa yang terjadi pada kita kemarin, aku
pikir itu memang salahku. Aku terlalu sibuk dan membiarkan hubungan kita
menjenuh, padahal seharusnya yang kulakukan justru sebaliknya,” Kyuhyun
menjelaskan sambil menatap Yoona serius. Ia memasukkan salah satu tangan pada
kantong jeansnya, menggenggam erat sesuatu.
“Tapi satu yang aku ingin tanyakan,
kenapa kau biarkan aku sibuk, Yoona? Kenapa kau tak mencoba menegur atau
memarahiku? Aku merasa seperti orang jahat, kau tahu.”
Yoona coba mencerna perkataannya
barusan, kemudian terkekeh, “Aku tidak ingin kau menganggapku sebagai beban,
oppa. Pekerjaanmu aku yakin sudah membuatmu lelah, lalu jika aku meminta
perhatianmu aku takut kau justru, err… kau justru mengacuhkanku,” Yoona
mengatakan tiga kata terakhir itu hampir seperti bisikan, tetapi untung Kyuhyun
bisa menangkapnya dengan jelas.
“Kalau begitu, jika aku memintamu untuk
kembali, maukah kau kembali untukku?” Yoona tersenyum dan mengangguk pelan.
“Err, sebenarnya ada satu hal lagi, aku
pergi ke Jepang bukan sekarang tetapi nanti pukul empat sore.”
“Ne?” Yoona terkejut dan membulatkan
matanya maksimal. Tunggu, ia sepertinya mulai bisa membaca situasi.
“Kau tau,
Sooyoung menyuruhku datang ke bandara karena dia bilang kau akan pergi ke
Perancis untuk meneruskan karirmu sebagai desainer. Jadi, aku well, aku ingin mengucapkan hal itu sebelum kau pergi.”
“Jadi
Sooyoung…” Yoona harusnya bisa menduga ini semua adalah permainan Choi
Sooyoung. Tiba-tiba saja rasa malu dan panik menghampirinya, she felt like crying and she did.
Kyuhyun yang melihat Yoona menangis
tiba-tiba terserang panik dan bingung, ia langsung merangkul Yoona dan mengusap
punggungnya, “Kau kenapa Yoona?”
“I hate my best friend,” dia mengeluh kecil dibalik
kemeja Kyuhyun, menyembunyikan wajahnya. Sementara Kyuhyun menaruh dagunya
tepat di puncak kepala Yoona, tersenyum.
“Hey, kalian
seharusnya berterimakasih. You guys have me to solve your
sick love problem,” suara Sooyoung tiba-tiba terdengar dan membuat
Yoona semakin menyembunyikan wajahnya. Malu.
“Yoona-ya, katakan
terimakasih,” Sooyoung memaksa dengan keras kepala. Yoona yang mendengar
langsung mengangkat wajahnya dan menatap Sooyoung intens, “I. Hate. You,”
timpal Yoona kesal, dan itu hanya membuat Sooyoung tertawa geli.
“Entahlah
aku harus berterimakasih atau tidak padamu, tetapi aku liat kau sudah menemukan
seseorang. Well, akhirnya aku tau kenapa kau tidak mengantar Yoona
seperti seharusnya, jadi kau dan Changmin sudah bersama?” Kyuhyun menyeringai
melihat Changmin yang menyusul mereka dari belakang, membuat keduanya salah
tingkah.
“Yang kau harus lakukan hanya berdoa
untukku, Kyuhyun-ah. Sepertinya sebentar lagi aku akan membeli sebuah apartemen
dengan seorang gadis,” goda Changmin yang membuat Sooyoung iritasi.
“Shut up,” tutup gadis tinggi itu singkat.
***
Seoul,
August’06 05.00 p.m.
It’s
been moths since they (I mean Kyu and Yoona) have gone back together and
they’ve been pretty well. Dan lihat, sekarang mereka memutuskan untuk menikah
bulan depan, and that means I have to hear their bickering towards the marriage
stuffs. Aku senang akhirnya dua orang bodoh itu menyadari bahwa mereka memang
untuk satu sama lain.
May
be what I said on the last post was entirely wrong. Aku bilang “Because fashion
means love, but love doesn’t mean fashion” mungkin harus aku revisi sedikit.
Hanya sedikit. Love is indeed fashion, when you got into it, you will surely
know that love have different sides that always bring you down and up on a
role. Argghh, ini membingungkan dan aku benci hal seperti ini.
Kini
aku tidak menulis sendiri, di sampingku sudah ada seseorang yang willing enough
with my habits and he’s perfect just by it. And he sleeps so well. Yeah, this
gonna be a happy ending. I thought.
Sooyoung tersenyum kecil sebelum
akhirnya selesai menulis di diari mayanya. Ia meletakkan laptop berikut
koneksinya di meja yang berada di samping bangku taman, kemudian ia beralih
pada seseorang yang sudah pulas dengan tidurnya.
“Berhenti menatapku atau kau akan jatuh
lebih dalam padaku,” Changmin bergumam sementara matanya masih tertutup rapat.
“Hey you didn’t sleep! Wake up! Oh come on, aku tidak akan jatuh kedua kalinya kau
tahu.”
Changmin tertawa pelan dan membuka
matanya, menatap gadis di hadapannya, “Aku tidak ingin kau jatuh dua kali,
Sooyoung-ah. Cukup sekali dan jangan coba-coba untuk bangkit dari sana, ne?”
Sooyoung
tidak bisa menahannya lagi, ia tertawa lepas tidak tahan dengan kalimat yang
baru saja Changmin ucapkan. It’s a bit, I mean really cheesy.
“Sooyoung-ah,”
panggil Changmin dan Sooyoung pun menoleh, tawanya tercekat ketika ia melihat
Changmin mendekat dan meraih dagunya dengan ibu jari dan telunjuk, they are about to kiss when…
“Dwaesseo (it’s done)!” teriakan Kyuhyun
membuat Changmin dan Sooyoung mengalihkan perhatian mereka pada sumber suara.
“Oppa, jika kita beri ini pada jurnalis,
berapa banyak yang bisa kita dapat?” Tanya Yoona sambil mengamati hasil foto
Kyuhyun.
“Mungkin 50.000 won?” jawab Kyuhyun tak
pasti.
“Bisakah kita meminta 100.000?”
“Aku sedikit ragu, Yoona-ya. Lihat,
mereka belum sempat melakukannya, jadi harganya tidak mungkin bisa semahal
itu.”
“YA! Sedang
apa kalian berdua, hah?!” Changmin yang merasa annoyed dengan
percakapan mereka, akhirnya mengajukan komplain.
“Sejak kapan kalian berdua disini?” kali
ini Sooyoung yang bertanya.
“Sebenarnya kami lebih dulu tiba disini,
tetapi mungkin kalian tidak bisa melihat kami karena tong besar ini, tapi hasil
yang kami dapat tidak sia-sia, betul oppa?”
Kyuhyun mengangguk dan memamerkan foto
hasil jipratannya di hadapan Sooyoung dan Changmin.
“Kyuhyun-ah,
jebal. Jangan kau berikan pada jurnalis, ne?” Changmin menyerah dan mencoba
merayu that little evil couple.
“Apa yang akan kami dapat?”
“Apapun. I mean, oh come on you kangaroo!” Changmin mendekati
sahabatnya itu dan mengunci lehernya dengan sebuah pitingan, sementara Kyuhyun
tertawa terbahak-bahak.
“It’s really a happy ending, right?” Tanya Sooyoung pada
Yoona.
“Memang seharusnya begitu,” jawabnya
santai sambil mengamati cincin yang melingkar manis di jarinya.
Fin.

0 comments